ini rayuan or isi hati yg terdalam
April 7th, 2008 by volvo-balapAssalamualaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh,
Apa kabar calon istriku? Hope u well and do take care… Allah selalu bersama
kita.
Calon Istriku…
Masihkah menungguku…? Hm… menunggu, menanti atau whateverlah yang sejenis
dengan itu kata orang membosankan. Benarkah?! Menunggu… hanya sedikit orang
yang menganggapnya sebagai hal yang ‘istimewa’.
Dan bagiku, menunggu adalah hal istimewa. Karena banyak manfaat yang bisa
dikerjakan dan yang diperoleh dari menunggu. Membaca, menulis, diskusi ringan,
atau hal lain yang bermanfaat.
Menunggu bisa juga dimanfaatkan untuk mengagungkan-Nya, melihat fenomena
kehidupan di sekitar tempat menunggu, atau sekadar merenungi kembali hal yang
telah terlewati. Eits, bukan berarti melamun sampai angong alias ngayal dengan
pikiran kosong. Karena itu justru berbahaya, bisa mengundang makhluk dari
‘dunia lain’ masuk ke jiwa.
Banyak hal lain yang bisa kau lakukan saat menunggu. Percayalah bahwa tak
selamanya sendiri itu perih. Ngejomblo itu nikmat, jenderal
Bahwa di masa penantian, kita
sebenarnya bisa lebih produktif. Mumpung
waktu kita masih banyak luang. Belum tersita dengan kehidupan rumah
tangga. Jadi waktu kita untuk mencerahkan ummat lebih banyak. Karena
permasalahan ummat saat ini pun makin banyak.
Karenanya wahai bidadari dunia…
Maklumilah bila sampai saat ini aku belum datang. Bukan ku tak ingin,
bukan ku tak mau, bukan ku menunda. Tapi persoalan yang mendera bangsa
ini kian banyak dan kian rumit. Begitu banyak anak tak berdosa yang
harus menderita karena busung lapar, kurang gizi, lumpuh layuh hingga
muntaber. Belum lagi satu per satu kasus korupsi tingkat tinggi yang
membuktikan bahwa negeri ini ’sarang tikus’.
Ditambah lagi bencana demi bencana yang melanda negeri ini. Meski saat
ini hidup untuk diri sendiri pun rasanya masih sulit. Namun seperti
seorang ustadz pernah mengatakan bahwa hidup untuk orang lain adalah
sebuah kemuliaan. Memberi di saat kita sedang sangat kesusahan adalah
pemberian terbaik. Bahwa kita
Calon Istriku… kan terkikis dari kan tiba.
Di mana pun engkau sekarang, janganlah gundah, janganlah gelisah.
Telah kubaca tulisanmu dan aku mengerti. Betapa merindunya dirimu akan
hadirnya diriku di dalam hari-harimu.
Percayalah padaku aku pun rindu akan hadirmu. Aku akan datang, tapi
mungkin tidak sekarang. Karena jalan ini masih panjang. Banyak hal yang
menghadang. Hatiku pun melagu dalam nada angan. Seolah sedetik tiada
tersisakan. Resah hati tak mampu kuhindarkan. Tentang sekelebat bayang,
tentang sepenggal masa depan. Karang asaku tiada ‘
panjang jalan perjuangan hanya karena sebuah kegelisahan. Lebih baik
mempersiapkan diri sebelum mengambil keputusan. Keputusan besar untuk datang
kepadamu.
Calon Istriku…
Jangan menangis, jangan bersedih, hapus keraguan di dalam hatimu.
Percayalah padaNYA, Yang Maha Pemberi Cinta, bahwa ini hanya likuan
hidup yang pasti berakhir. Yakinlah saat itu pasti ‘
Tak usah kau risau karena makin memudarnya kecantikanmu.
Karena Iraq yang
kecantikan hati dan iman yang dicari. Tak usah kau resah karena makin
hilangnya aura keindahan luarmu. Karena aura keimananlah yang utama. Itulah
auramu yang memancarkan cahaya syurga. Merasuk dan menembus relung jiwa.
Wahai perhiasan terindah…
Hidupmu jangan kau pertaruhkan. Hanya karena kau lelah menunggu.
Apalagi hanya demi sebuah pernikahan. Karena pernikahan tak dibangun
dalam sesaat, tapi ia bisa hancur dalam sedetik. Seperti Kota
dibangun berpuluh tahun, tapi bisa hancur dalam waktu sekian hari.
Jangan pernah merasa, hidup ini tak adil. Kita tak akan pernah bisa
mendapatkan semua yang kita inginkan dalam hidup. Pasrahkan inginmu
sedalam kalbu pada tahajjud malammu. Bariskan harapmu sepenuh rindumu pada
istikharah di shalat malammu. Pulanglah padaNYA, ke dalam pelukanNYA.
Jika memang kau tak sempat bertemu diriku, sungguh itu karena dirimu
begitu mulia, begitu suci. Dan kau terpilih menjadi ainul mardhiyah di
jannahNYA.
Calon Istriku… Karena Ia sedang mempersiapkan kita kan menjelang jua. Saat
Skenario Allah adalah skenario terbaik. Dan itu pula yang telah Ia
skenariokan untuk kita.
untuk lebih
matang merenda hari esok seperti yang kita harapkan nantinya. Untuk
membangun kembali peradaban ideal seperti cita kita.
Calon istriku…
Ku tahu kau merinduiku, bersabarlah saat indah ‘
kita akan disatukan dalam ikatan indah pernikahan. Apa kabarkah kau
disana? Lelahkah kau menungguku berkelana, lelahkah menungguku kau
disana? Bisa bertahankah kau disana, tetap bertahanlah kau disana. Aku akan
segera datang, sambutlah dengan senyum manismu. Bila waktu itu telah
tiba, kenakanlah mahkota itu, kenakanlah gaun indah itu. Masih banyak yang
harus kucari, ‘tuk bahagiakan hidup kita nanti…
Calon istriku… sana
ada bintang yang menghilang, mataku berpendar mencari bintang yang Ku awali hariku dengan tasbih, tahmid dan shalawat. Dan mendo’akanmu kan merindukan keberadaanku yang menyedihkan kan selalu mengagumi, mengawasimu,mmenjagamu dan mencintaimu.
Malam ini terasa panjang dengan air mata yang mengalir. Hatiku terasa
kelu dengan derita yang mendera, kutahan derita malam ini sambil
menghitung bintang. Cinta membuat hati terasa terpotong-potong. Jika di
datang. Bila memang kau pilihkan aku tunggu sampai aku datang.
agar kau selalu sehat, bahagia, dan mendapat yang terbaik dari-Nya. Aku
tak pernah berharap kau ‘
ini. Hanya dengan rasa rinduku padamu, kupertahankan hidup. Maka hanya
dengan mengikuti jejak-jejak hatimu, ada arti kutelusuri hidup ini.
Mungkin kau tak pernah sadar betapa mudahnya kau ‘tuk dikagumi. Akulah orang
yang ‘
Calon Istriku… kan segera datang. Jangan kan selalu kan kukejar
Saat ini ku hanya bisa mengagumimu, hanya bisa merindukanmu. Dan
tetaplah berharap, terus berharap. Berharap aku ‘
pernah berhenti berharap. Karena harapan-harapanlah yang membuat kita
tetap hidup.
Bila kau jadi istriku kelak, jangan pernah berhenti memilikiku dan
mencintaiku hingga ujung waktu. Tunjukkan padaku kau ‘
mencintaiku. Hanya engkau yang aku harap. Telah lama kuharap hadirmu di sini.
Meski sulit harus kudapatkan. Jika tidak kudapat di dunia, ‘
sang ainul mardhiyah yang menanti di syurga.
Ku akui cintaku tak hanya hinggap di satu tempat, aku takut mungkin
diriku terlalu liar bagimu. Namun sejujurnya, semua itu hanyalah
persinggahan egoku, pelarian perasaanku dan sikapmu telah meluluhkan jiwaku.
Waktu pun terus berlalu dan aku kian mengerti apa yang akan ku hadapi dan
apa yang harus kucari dalam hidup.
Kurangkai sebuah tulisan
sederhana ini untuk dirimu yang selalu
bijaksana. Aku goreskan syair sederhana ini, untuk dirimu yang selalu
mempesona. Memahamiku dan mencintaiku apa adanya. Semoga Allah kekalkan nikmat
ini bagiku. Semoga…
Kau terindah di antara bunga yang pernah aku miliki dahulu
Kau teranggun di antara dewi yang pernah aku temui dahulu
Kau berikan tanda penuh arti yang tak bisa aku mengerti
Kau bentangkan jalan penuh duri yang tak bisa aku lewati
Begitu indah kau tercipta bagi Adam
Begitu anggun kau terlahir sebagai Hawa
Kau terindah yang pernah kukagumi meski tak bisa aku miliki
Kau teranggun yang pernah kutemui meski tak bisa aku miliki
Ya Allah… ringankanlah, kerinduan yang mendera.
Kupanjatkan sepotong
doa setiap waktu, karena keinginan yang menyeruak di dalam diriku.
Ya Allah… ampuni segala kesilafan hamba yang hina ini ringankan
langkah kami. Beri kami kekuatan dan kemampuan tuk melengkapkan setengah
dien ini, mengikuti sunnah RasulMu jangan biarkan hati-hati kami terus
berkelana tak perpenghujung yang hanya sia-sia dengan waktu dan kesempatan
yang telah Engkau berikan.